Sabtu, 27 Februari 2010

Investasi Propinsi Sulawesi Selatan


Sulawesi Selatan merupakan daerah investasi yang berpotensi oleh hasil perikanan, industri, dan perkebunan. Komoditi unggulan dari sektor tersebut adalah kakao (168,542.00 ton), kopi (63,737.00 ton), kelapa sawit (55,889.00 ton), kelapa (1,030,717.00 ton), cengkeh (37,128.00 ton), perikanan (337,317.00 ton), sapi (723,678.00 heads), jagung (875,746.00), tebu (26,171.00 ton), industri pengolahan kopi (63,737.00 ton kopi), pelelangan ikan (2337,317.00 ton ikan tangkapan), ikan beku (337,317.00 ton ikan tangkapan), tepung ikan (337,317.00 ton ikan tangkapan), industri kelapa terpadu (1,030,717.00 ton kelapa), industri pengolahan daging sapi (723,678.00 ekor sapi), industri minyak essensial (37,128.00 ton cengkeh), cowherd s food (875,746.00 ton of jagung).

Berikut ini adalah pusat pengembangan komoditas Sulawesi Selatan; kakao (Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Pinrang, Wajo, Soppeng danBone), kelapa sawit (Regency of Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara danWajo), perikanan (Luwu, Wajo, Bone, Sinjai, Bulukamba, Jeneponto, Takalar, Maros danPinrang), tenak sapi (Bone, Gowa, Bulukumba, Maros danBarru), tebu (Bontonompo, Bajeng, Bontomarannu, Somba Opu Subdistrict, Takalar, Bone, Wajo, Luwu danLuwu Utara),industri pengalengan ikan (Bone, Jeneponto danMakassar), industri ikian beku (Bone, Luwu, Sinjai dan Bulukumba),industri tepung ikan (Bone, Luwu, Sinjai dan Bulukumba).

Di tempat kedua ditemukan karet (Bulukumba dan Sinjai), kacang mete(Bone, Pangkep, Sindrap, Sinjai, Barru, Soppeng danBulukumba), rumput laut (Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Bone).

Komoditi lain yang cukup berpeluang adalah kacang (Barru, Selayar, Gowa, Sinjai, Maros, Bone, Soppeng dan Wajo), singkong (Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Gowa, Maros dan Tana Toraja), kacang mete (Pangkep, Bone dan Sidrap), lada (Located in the Regency of Bulukumba, Sinjai, Enrekang dan Luwu Utara), vanili (Sinjai, Tana Toraja dan Luwu Utara), jahe (Bone), katak (all over province), escargot (all over province), industri logam (Luwu, Maros, Takalar, Selayar, Jeneponto dan Barru), pengolahan kopi (Enrekang dan Tana Toraja), industri minyak kelapa (Luwu Utara, Bulukumba, Bone, Wajo dan Pinrang), gas alam (Wajo (407.4 BCFT), Jeneponto dan Enrekang), batu bara (Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Enrekang, Bone, Sinjai, Tator, Gowa,Jeneponto dan Enrekang), nikel (Luwu), pasir besi (Luwu), tembaga (Tator), batu kapur (Maros, Pangkep, Sindrap, Bulukumba, Bone, Soppeng), marmer (Bone dan Maros), pasir kuarsa (Sidrap dan Pinrang), zeolit (Tator dan Gowa), tanah liat (Gowa, Bulukumba, Enrekang, Barru, Soppeng, Tana Toraja), bentonit (Gowa, Tana Toraja dan Bulukumba), granit (Luwu, Selayar, Maros/Bone), pantai (Gowa, Bulukumba, Sinjai, Pangkep, Pantao Baromban, Pantai Pasir Putih Bira, Pulau Sembilan, Pulau Kaposan), taman rekreasi hutan (Hutan Rekreasi Malin, Hutan Rekreasi Jompie, Hutan Rekreasi Nanggala, Karenta) , rekreasi laut (Taka Bonerate, Sabalana), wisata danay (Mahalona, Tempe, Towuti, Matano, dan Sidenreng), pariwisata budaya dan sejarah (Tana Toraja dan Tana Toa Kajang), dan wisata alam (Air Terjun Bantimurung, malino, dan Leang-Leang).

Untuk keperluan bisnis Anda, Sulawesi Selatan menyediakan bandara-bandara (Bandara Internasional Hasanuddin, Bandar Udara Pongtiku Toraja, Bandar Udara Andi Jemma Masamba, Bandar Udara Soroako, Bandar Udara Seko, Bandar Udara Rampi, Bandar Udara Haji Aroepala, and Bandar Udara Sinjai), pelabuhan (Bira , Leppe e , Bantaeng , Awerange , Benteng , Jampea , Bulukumba , Bajoe , Pattiro Bajo , Tujuh-tujuh , Kading , Dua BoccoE , Jeneponto , Bua , Palopo , Palopo , Malili , Sinjai , Balantang , Soekarno-Hatta , Pajukukang , Biringkasi , Pare-Pare , Cappa Ujung , Lontange , Selayar , Pamatata , Benteng , Jampe , Siwa , Pertamina s , and poultry specialized ), hotel, (dari kelas melati hingga hotel berbintang), fasilitas perbankan, dan fasilitas komunikasi.


Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=6138&Itemid=1863

Sumber Gambar:
http://makassar.bpk.go.id/web/wp-content/uploads/2009/10/sulsel_slice.jpg

Sumberdaya Alam Provinsi Sulawesi Selatan


View Larger Map
Areal pertanian di provinsi ini mencapai 1.411.446 ha, terbagi dalam lahan persawahan seluas 550.127 ha dan lahan kering seluas 861.319 ha. Lahan persawahan beririgasi teknis mencapai 317.727 ha, sawah tadah hujan seluas 230.760 ha, sawah pasang surut 1.540 ha dan sawah lebah/ polder seluas 100 ha dengan total saluran irigasi mencapai 244.304 ha. Sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 3.365.509 ton padi, terdiri atas 3.352.116 ton padi sawah dan 13.393 ton padi ladang. Dibanding dua tahun terakhir, produktivitas padi yang dicapai meningkat, Pada 2004, produksi padi di sana mencapai 3.552.834 ton sementara pada 2005 mencapai 3.619.652 ton. Di luar sawah-sawah tadi, di provinsi ini juga terdapat lahan kering yang terdiri atas lahan pekarangan seluas 178.734 ha, tegalan/kebun seluas 539.266 ha dan ladang/huma seluas 153.319 ha.

Sebagai salah satu lumbung beras nasional, Sulawesi Selatan setiap tahunnya menghasilkan 2.305.469 ton beras. Dari jumlah itu, untuk konsumsi lokal hanya 884.375 ton dan 1.421.094 ton sisanya merupakan cadangan yang didistribusikan bagian timur lainnya bahkan telah diekpor sampai ke Malaysia, Filipina dan Papua Nugini. Lokasi produksi padi terbesar berada di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu (Bodowasipilu).

Selain pertanian, perkebunan juga merupakan sumber daya alam yang sedang di kembangkan seperti: palawija di Sulawesi Selatan pada 2004 sebanyak 674.115 ton, 723.331 untuk tahun 2005 sedangkan pada tahun 2006 mencapai 696.084 ton dan diperkirakan meningkatpada tahun 2007 sekitar 800.000 ton. Jika ini tercapai, Sulawesi Selatan akan menjadi produsen jagung terbesar kelima di Indonesia. Sentral produksi jagung terdapat di Kabupaten Bone, Jeneponto, Bulukumba dan Bantaeng. Pada kegiatan Presiden RI ke Provinsi Sulawesi Selatan dengan acara "Puncak Hari Pangan dan Peresmian Pembukaan Indonesia Food di Makassar tanggal 26 November 2006 menyampaikan bahwa: “… pada kesempatan yang baik ini, saya meminta agar pemerintah daerah, provinsi, kabupaten dan kota menyusun program-program yang nyata, untuk meningkatkan roda ekonomi pedesaan. jika ekonomi pedesaan tumbuh dengan baik, kerawanan pangan dan secara bertahap dapat kita hapuskan. Saya mengingat kembali akan pentingnya revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan yang telah saya canangkan beberapa waktu yang lalu…”.

Selain jagung, daerah Sulawesi Selatan juga menghasilkan ubi kayu, ubi jalar. kacang tanah kacang hijau dan kedelai, Untuk produksi ubi kayu pada tahun 2004 sebanyak 592.350 ton, tahun 2005 sebanyak 586.350 ton, sedangkan tahun 2006 produksi ubi kayu sebanyak 590.717 ton. Sedangkan produksi ubi jalar sebesar 61.790 ton pada tahun 2004, 76.500 ton untuk tahun 2005 dan pada tahun 2006 diproduksi sebesar 73.430 ton. Kacang tanah diproduksi sebanyak 41.191 ton tahun 2004, tahun 2005 sebanyak 40.328 ton dan pada tahun 2006 dihasilkan sebanyak 41.759 ton, Kacang hijau pada tahun 2004 diproduksi 27,06 ton, tahun 2005 sebanyak 29.675 ton dan di tahun 2006 sebanyak 28.554 ton. Sedangkan untuk produksi kedelai pada tahun 2004 sebesar 26.875 ton, tahun 2005 sebesar 27.269 ton serta tahun 2006 diproduksi sebesar 22.242 ton. Perkebunan adalah sektor sumber daya alam yang menghasilkan berbagai jenis komoditas, antara lain kelapa hibrida, kakao, kopi, lada, vanili, teh, jambu mete dan kapas.

Berdasarkan Tata Guna Horan Kesepakatan (TGHK) tahun 2004, luas hutannya mencapai 3.090.005 ha, meliputi hutan lindung seluas 1.224.279,65 ha, hutan produksi terbatas seluas 488.551 ha dan hutan produksi biasa seluas 131.041,10 ha, Dart hutan-hutan ini dihasilkan 147.739,24 m³ kayu, terdiri aras 33.345,9 m³ kayu HPH dan 114.604,67 m³ kayu non-HPH, Produksi non kayu terdiri atas 6478,67 ton rotan dan 180.126,7 ton getah pinus.

Potensi sektor perikanannya sebanyak 318378 ton, terdiri atas perikanan laut sebanyak 291.969 ton, perairan darat 6.425 ton dan perairan umum 19.984 ton. Ekspor 2005 di sektor ini mencapai 1.700 ton ikan tuna segar/beku, 1.710 ton ikan kerapu serta 1.400 ton ikan kakap, meningkat jadi 2.100 ton ikan tuna segar/beku, 1.950 ton ikan kerapu serta 1.745 ton ikan kakap pada 2006. Produk kelautan lainnya adalah rumput laut, yang pada 2004 di budi dayakan di garis pantai sepanjang 1900 km dengan total produksi 4.642,7 ton. Saat ini Sulawesi Selatan merupakan sentral pengembangan produksi rumput laut di Indonesia, khususnya untuk jenis glacillaria dan E Cottoni, masing-masing memberikan kontribusi 58% dan 36% terhadap produk rumput laut nasional.

Berbagai jenis peternakan berkembang di sana, terutama ternak sapi, kerbau, ayam, itik, kambing dan sebagainya. jumlah populasi ternak 2005 sebanyak 28.942.526 ekor per tahun dan produksi peternakan mencapai 26.747.228,47 ton per tahun. Populasi ternak tahun 2004 untuk sapi mencapai 738.140 ekor, kerbau 133.467 ekor, kuda 118.101 ekor, kambing 555.927 ekor, babi 448.869 ekor, ayam ekor dan itik 4.118.276 ekor. Sedangkan pada tahun 2005 jumlah populasi kerbau 171,790 ekor, kuda 130.319, sapi 567.749 ekor, babi 570.917 ekor, dan itik 3.534.280 ekor. Pada 2006 populasi kerbing sebanyak 245.350 ekor, kuda 124.254 ekor, ayam sebanyak ekor dan itik sebanyak 4.765.428 ekor.

Perkebunan adalah sektor andalan dengan berbagai jenis komoditas, antara lain kelapa sawit, kelapa hibrida, kakao, kopi, lada, vanili, tebu, karet, teh, jambu mete dan kapas. Dari semuanya, kakao dan kopi adalah komoditas primadona. Luas perkebunana kakao 662.615 ha, terdiri atas perkebunan rakyat 657.334 ha dan perkebunan besar swasta 5.281 ha. Pertumbuhan rata-rata kakao mencapai 2% per tahun, dengan produksi 521.440 ton per tahun. Sentra produksi kakao terdapat di Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Wajo, Pinrang, Bone dan Sinjai.

Primadona lainya adalah kopi, dengan luas hutan 203.844 ha, terdiri atas lahan kopi arabika seluas 118.742 ha dan kopi robusta seluas 85.102 ha. Luas lahan ini pun masih dibagi dua, perkebunan rakyat besar seluas 107.966 ha dengan produksi 47.231 ton per tahun dan perkebunana besar swasta seluas 10.776 ha dengan produksi 2.093 ton per tahum. Laju perkembangan luas lahan rata-rata 1,5% per tahun dan pertumbuhan rata-rata produksi 3% per tahun. Setra produksi kopi terdapat di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.

Salah satu faktor yang mendorong tingginya PDRB Provinsi Sulawesi Selatan adalah sektor pertambangan. Produksinya mencakup emas, mangan, besi, pasir besi, granit, timah hitam, batu nikel sebagai produk unggulannya. Produksi nikel mencapai 73.283.138 kg per tahun, terdapat di Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara.

Sumber:
Indonesia Tanah Airku (2007), dalam :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3545&Itemid=1968

Sumber Gambar:
http://maps.google.com/

Sulsel Catat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi

Sulawesi Selatan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia yang mencapai 7%-8% pada 2008.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan tren pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan terus meningkat setiap tahunnya.

"Angka pengangguran juga terus menurun karena lahirnya para pebisnis di Makassar seperti dibangunnya Trans Studio oleh Trans Kalla," jelas Yasin dalam sambutannya saat meresmikan Trans Studio Indoor Theme Park, pagi ini.

Dia optimistis Makassar akan menjadi tujuan investasi dan wisata bagi pengusaha dalam dan luar negeri. "Dari Trans Studio ini saja terserap 1.000 tenaga kerja yang ada di Makassar," katanya.

Ekonomi di Makassar akan terus tumbuh, katanya, saat ini ekspor dari Sulsel melampui US$1 miliar dengan tingkat penggunaan otomotif yang tinggi mencapai 300.000 unit per tahun.

Pagi ini, Wapres M. Jusuf Kalla meresmikan Trans Studio Indoor Theme Park di area seluas 2,5 hektare. Trans Studio Indoor Theme Park merupakan destinasi wahana bermain bagi keluarga yang dimiliki oleh Grup Para dan Grup Kalla. Tanah seluas 2,5 hektare ini merupakan milik keluarga Kalla.(yn)


Sumber :
http://web.bisnis.com/keuangan/ekonomi-makro/1id137134.html, dalam :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=10838&Itemid=1258

Jumat, 26 Februari 2010

Pemprov Sulsel Canangkan "SULSEL GO GREEN"

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak dari setiap warga negara. Oleh karena itu setiap warga negara berhak untuk ikut berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup da berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup. Berbagai upaya yang dilakukan antara lain, mencegah dan menanggulangi pencemaran dan pengerusakan lingkungan sebagaimana yang ditetapkan di dalam UU no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi lingkungan hidup di Sulawesi Selatan, khususnya dalam hal kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup sangat memprihatinkan. Angka kerusakan hutan dan lahan dari tahun-ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 luas lahan kritis dalam kawasan hutan mencapai 369.955,54 ha (dari 1.928.587 ha total luas hutan lindung), dan diluar kawasan hutan mencapai 312.827,75 ha. Selain itu luas areal hutan bakau juga terus mengalami penurunan, pada tahun 2006 yang tersisa hanya sekitar 9.795 ha dengan kondisi 40,71% rusak berat, 10,22 rusak sedang, dan hanya 15,27% dalam kondisi baik.

Memperhatikan kondisi diatas, serta dalam rangka menunjang pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, sudah saatnya semua pihak turut bepartisipasi dalam melakukan pemeliharaan dan pemulihan lingkungan hidup dalam wadah “Gerakan Sulsel Hijau” atau “Sulsel Go Green”. Kegiatan tersebut secara umum merupakan wadah yang mengakomodir kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Program Pelestarian Lingkungan hidup dan yang secara khusus berkaitan dengan Program Menghijaukan Wilayah Sulsel.

Program Sulsel Go Green dicanangkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, pada hari selasa, 8 Juli 2008 di Clarion Hotel & Convention Makassar. Dalam acara yang dihadiri seluruh satuan kerja dan Dinas lingkup Propinsi Sulsel, Gubernur menekankan agar program ini tidak boleh terhenti sebagai wacana seremonial saja, melainkan harus dijalankan disetiap jalur yang menjadi sasaran Sulsel Go Green, yaitu jalur Sekolah, Dunia Usaha (korporasi), Instansi, dan masyarakat.Keempat jalur diatas sengaja dipilih kerena sangat strategis fungsi dan perannanya dalam kehidupan masyarakat

Pelaksanaan program Sulsel Go green di jalur sekolah/PT akan dibentuk wadah “Komisi Sayang Lingkungan Hidup” dan membentuk Satuan Tugas dengan nama Satgas Sayang Lingkungan serta akan menunjuk Duta Sayang Lingkungan.ugas utamanya adalah mempercepat terwujudnya “Sekolah Hijau”.

Pelaksanaan program Sulsel Go green di jalur Dunia Usaha (korporasi) dilaksanakan sepenuhnya kepada unit-unit usaha untuk merumuskan bentuk tanggung jawab social korporasi (Coporate Social Responsibility) yang berwawasan lingkungan.

Pelaksanaan program Sulsel Go green di jalur Pemerintah diarahkan agar seluruh Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) agar dapat meningkatkan kapasitas dalam melaksanakan program GSH serta menerapkan Eco Office atau kantor yang berwawasan lingkungan demi penghematan anggaran dan kelestarian lingkungan.

Pelaksanaan program Sulsel Go green di jalur Masyarakat dilaksanakan sepenuhnya kepada kelompok-kelompok masyarakat seperti organisasi kepemudaan, Organisasi Massa keagamaan, Partai Politik, dsb.

Pelibatan keempat unsure diatas barangkali masih terlalu kecil jika dibandingkan tingginya tingkat kerusakan alam dan lingkungan di bumi Sulawesi Selatan. Namun kiranya, langkah positif diatas harus kita apresiasi dengan baik, karena bagaimanapun juga kecil dan sedikit jauh lebih berarti daripada tidak sama sekali. SULSEL GO GREEN, BISA…!!!


Sumber :
http://www.bpdas-jeneberang.net/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=9
10 Juli 2008

Kota Makassar


View Larger Map




Kota Makassar sejak 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang. Daerah ini adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar di pesisir Barat Daya Pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Jumlah populasi yang ada di dalamnya mencapai 1.179.624 jiwa (tahun 2006) dimana 582.983 adalah laki-laki dan sisanya 596.641 jiwa adalah wanita. Dari sisi sumber daya manusia, masyarakat Kota Makassar yang telah menamatkan pendidikan tingkat atas mencapai 32 persen, sedangkan tingkat diploma mencapai 2,8 persen dan universitas mencapai 7 persen.

Selain terkenal dengan Pantai Losari, kota ini juga terkenal dengan perikanan dan industri. Di sektor perikanan, Kota Makassar menghasilkan 13.645 ton ikan pada tahun 2004 dengan sentra penangkapan ikan tersebar di Kecamatan Ujung Tanah, Tamalate, Tallo, Mariso, Ujung Pandang, dan Biring Kanaya. Sedangkan di sektor industri, terdapat industri pengalengan ikan, industri ikan beku, dan industri tepung ikan yang didukung dengan ketersediaan bahan baku ikan yang melimpah.

Ada sekitar 143 perusahaan yang masih aktif di Makassar. Sebagian besar usaha terkonsentrasi di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, dan Panakkukang. Dari 143 total industri yang ada, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 17.767 jiwa. Adapun industri yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah industri makanan dan minuman. Dari total 60 industri yang bergerak di bidang makanan dan minuman, sekitar 7.495 tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut. Tak heran jika sektor industri pengolahan merupakan sektor penggerak ekonomi Kota Makassar dengan besaran konstribusi mencapai 23,57 persen.

Sektor penggerak ekonomi lainnya adalah perdagangan hotel dan restoran. Dari sisi perdagangan, jumlah kapal yang masuk membawa orang dan barang mencapai 5.710 unit kapal dimana 3.518 unit kapal yang bersandar di pelabuhan berasal dari pelayaran nusantara. Perdagangan juga dapat dibaca dari statistik bongkar muat dimana jumlah barang yang dibongkar dari dalam negeri mencapai 4.303.801 ton, sedangkan barang yang dimuat dari Makasar mencapai 2.711.308 ton.

Untuk perdagangan luar negeri, barang yang masuk di pelabuhan dan dibongkar mencapai 708.698 ton sedangkan barang yang dimuat ke luar negeri mencapai 1.241.077 ton. Untuk perdagangan dalam negeri terdapat defisit berat barang regional 1.592.493 ton dan untuk neraca perdagangan luar negeri terdapat surplus 532.379 ton. Perdagangan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan hasil industri olahan atau industri makanan perlu dipertahankan kuantitas dan kualitasnya untuk menambah pundi-pundi keuangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.


Sumber:
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kota+Makassar

Sumber Gambar:
http://maps.google.com/
http://bentengkehidupan.files.wordpress.com/2009/10/pelabuhan-soekarno-hatta3.jpg
http://en.academic.ru/pictures/enwiki/84/Tanjung_Bunga.jpg
http://sihotang407.files.wordpress.com/2008/08/image_00012.jpg
http://omongklobot.files.wordpress.com/2009/07/800px-anjungan_losari.jpg

Profil Kota Parepare


View Larger Map

Kota Parepare secara geogarfis terletak antara 3o57 39 -4o04 49 LS dan antara 119o36 24 - 119o43 40 BT. Berbatasan dengan Kabupaten Pinrang di utara, Kabupaten Sidrap di timur dan Kabupaten Barru sebelah selatan serta Selat Makassar di barat. Luas wilayah daerah ini 99,33 Km2.

Secara administratif, daerah ini terbagai menjadi tiga Kecamatan dan dua puluh satu kelurahan. Sebagai kota niaga dan jasa, sebagaian besar usaha masyarakat Parepare dalam bidang perdagangan dan jasa, seperti perdagangan beras antar pulau, hasil laut, perkebunan, pertanian dan hasil perikanan. Bidang usaha lainnya yakni jasa keuangan, angkutan, jasa konstruksi, hotel, dan restoran serta perdagangan dan jasa lainnya.

Obyek wisata yang dapat dikunjungi di kota Bersahaja ini antara lain Pantai Lumpue, pasar senggol, pulau Kamarang, Cagar hutan jompie, Museum Gandaria dan masih banyak lagi.

Parepare merupakan kota pelabuhan. Kapal-kapal singgah di pusat kota. Terdapat tiga pelabuhan kota yakni pelabuhan induk nusantara, cappa ujung, dan lontangge. Masayarakat Parepare majemuk dari berbagai suku etnis dengan dominasi suku bugis, Mandar, Makassar, serta Toraja , selebihnya etnis Cina dan jawa. Meskipun dari beragam suku namun dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya terkenal dengan rasa gotong royong dan kekerabatan yang tinggi.

Daerah ini juga memiliki berbagai sarana dan prasarana pendukung diantaranya jalan darat, adanya ruko-ruko, pelabuhan, maupun terminal angkutan darat di kota yang juga terkenal dengan produk pakaian "cakar" alias cap karung atau pakaian bekas ini adalah dukungan terbesar bagi aktivitas ekonomi Parepare. Dengan ketersediaan fasilitas ruko, pusat perbelanjaan, perbankan, perumahan, hingga hotel dan restoran besar-ini sulit ditemukan di wilayah-wilayah tetangga dekatnya. Parepare optimistis mampu menjadikan kotanya sebagai kota niaga dan jasa.


Catatan :

Kota Parepare adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 99,33 km² dan berpenduduk sebanyak ±140.000 jiwa. Salah satu tokoh terkenal yang lahir di kota ini adalah B. J. Habibie, presiden ke-3 Indonesia.


Sumber Data:
Sulawesi Selatan Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Sulawesi Selatan
Jl. Penancangan No. 4, Serang 42124
Telp (0254) 202315
Fax (0254) 202315


Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7372
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Parepare


Sumber Gambar:
http://maps.google.com/
http://kinko.files.wordpress.com/2008/05/parepare_kota-parepare-tampak-dari-atas1.jpg

Parepare Maju Bila Kembangkan Pelabuhan


Peringatan HUT Kota Parepare ke-50, Rabu 17 Februari, kemarin, diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan ekonomi Parepare, melalui pengembangan pelabuhan Parepare.
Penilaian ini disampaikan Direktur Utama PT Surya Bintang Timur, Lukman Lajoni. Dia mengatakan, kalau Parepare mau maju harus benahi pelabuhan, baik fasilitas infrastruktur maupun tata kota. "Bagaimana akses pembangunan bagus di Parepare kalau tata kota tidak ada," kata pengusaha asal Surabaya ini, Senin 15 Februari lalu.

Untuk itu, dengan momen HUT Parepare ke-50 harus menjadi titik tolak kebangkitan ekonomi Parepare dalam dengan membangun fasilitas pelabuhan, dengan tata kota yang harus menghadap ke laut. Dengan begitu, kata putra kelahiran Parepare ini, akan membuat masyarakat Parepare sejahtera. "Tidak asal bangun, tapi harus sesuaikan tata kota. Kita jangan terlalu banyak mimpi dengan membangun kilang minyak misalnya," imbuhnya. Selama ini kata dia, terkesan proses pembangunan Parepare lamban. Padahal Parepare kota yang strategis harus mengembangkan ekonomi dari niaga dan menjadikan sebagai fondasi pokok adalah sektor pelabuhan. "Dengan mengembangkan pelabuhan, ekonomi masyarakat akan ikut berkembang ," ujarnya. Lukman menambahkan, Juni mendatang, sebagai putra Parepare kerja sama pemkot akan membangun dermaga sepanjang 200 meter dari eks Anging Mammiri hingga Hotel Yusida.

"Pelindo menyiapkan fasilitas atau menjadi operator pelabuhan sesuai Undang-undang No17 Tahun 2009," katanya. Menanggapi pembangunan Pelabuhan Garongkong Barru, Lukman menegaskan, pelabuhan itu mubazir. "Pembangunan Pelabuhan Garongkong berbau politis. Mana bisa ada pelabuhan langsung menghadap ke selat Makassar. Pelabuhan Parepare berada di tanjung, tentu sangat mendukung menjadi pelabuhan. Apalagi pengangkutan hasil bumi dari Siwa Wajo, Enrekang jauh lebih dekat ketimbang ke Garongkong. Di Sulsel pelabuhan strategis hanya Parepare dan Makassar," tandasnya. (rif)


Sumber :
http://www.parepos.co.id/read/28877/46/parepare-maju-bila-kembangkan-pelabuhan
18 Februari 2010

Sumber Gambar:
http://static.panoramio.com/photos/original/20509063.jpg

Kota Palopo


View Larger Map


Kota Palopo di Propinsi Sulawesi Selatan dikenal sebagai Kota Tujuh Dimensi. Letaknya di ujung Propinsi berbatasan dengan Kabupaten Luwu di bagian Selatan dan Utara, Kabupaten Tanah Toraja di bagian Barat dan Teluk Bone di bagian Timur. Aroma khas pegunungan, daerah yang berbukit, hawa pesisir pantai dari teluk yang terbentang, serta pola kehidupan masyarakat yang beraneka ragam menjadi ciri keramahan Kota Palopo. Kota ini menyimpan keindahan alam yang mempesona.

Sebelum berdiri, Kota Palopo merupakan bagian dari Kabupaten Luwu. Sejak tahun 2002 sesuai dengan UU No 12 Tahun 2002 Kota Palopo berstatus sebagai daerah otonom. Awalnya Palopo hanya terdiri dari 4 kecamatan dan 20 kelurahan. Pada tahun 2005 dilakukan pemakaran untuk wilayah kecamatan dan kelurahan menjadi 9 kecamatan dan 48 kelurahan.

Potensi ekonomi Kota Palopo digerakkan melalui sektor pertanian, perdagangan dan industri, serta jasa. Sektor pertanian meliputi beberapa sub sektor andalan, mencakup beberapa diantaranya pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, perikanan.

Pada tahun 2005 produksi padi mencapai 22,327.60 ton. Produksi yang terbesar terdapat di Kecamatan Tellu Wanua. Persebarannya selain Tellu Wanua adalah Kecamatan Wara Selatan dan Wara. Untuk produksi palawija mencapai 753,27 ton. Kecamatan Wara Selatan menjadi penyumbang terbesar produksi palawija. Selain Wara Selatan, palawija juga banyak diproduksi di Kecamatan Tellu Wanua dan Wara.

Komoditi lain untuk tanaman pangan adalah kacang tanah dan jagung. Untuk kacang tanah didominasi oleh Kecamatan Wara Selatan. Sedangkan jagung pusat produksinya berada di Kecamatan Wara Selatan.

Hasil perkebunan di Palopo yang menonjol produksinya adalah kelapa, kopi robusta, cokelat, cengkeh, aren, dan pinang. Kelapa banyak dihasilkan dari Kecamatan Wara Selatan. Kopi robusta banyak dihasilkan dari Tellu Wanua. Total produksi kelapa di Palopo tahun 2005 sebanyak 284,68 ton. Sedangkan kopi robusta sebanyak 157, 15 ton. Komoditi cokelat dan cengkeh paling menonjol terdapat di Kecamatan Tellu Wanua. Begitu pula dengan produksi gula aren, pinang, dan sagu Tellu Wanua menjadi pusat produksi.

Untuk peternakan hasil yang paling banyak adalah Sapi dan unggas. Selain itu Kambing, Kerbau, dan Babi. Daerah paling menonjol untuk produksi peternakan adalah Tellu Wanua dan Wara Utara. Sapi banyak dihasilkan dari Tellu Wanua dan Wara Utara. Untuk Kambing, daerah paling banyak adalah Tellu Wanua dan Wara. Sedangkan untuk produksi unggas baik Ayam Buras, Ayam Petelur, Ayam Potong, dan Itik, daerah paling banyak produksinya adalah Tellu Wanua.

Produksi perikanan di Palopo terdiri dari perikanan laut dan darat serta produksi rumput laut. Perikanan darat lebih besar produksinya dibanding dengan laut. Perikanan darat terdiri dari tambak yang menghasilkan Bandeng dan Udang. Pusat perikanan Palopo terdapat di Wara Selatan dan Wara Utara. Sementara untuk produksi rumput laut paling banyak dihasilkan oleh Kecamatan Wara Utara dan Wara Selatan.

Sektor industri tahun 2005 yang menonjol adalah industri hasil pertanian dan aneka industri logam, mesin dan kimia. Di Palopo untuk industri kelompok pertama terdapat 74 perusahaan sementara yang kedua terdapat 87 perusahaan. Daerah industri lebih banyak terpusat di Kecamatan Wara. Sektor jasa tersebar pada sarana perhubungan, perbankan, pos dan telekomunikasi, air bersih dan kesehatan.

Potensi lainnya yang menarik adalah pariwisata. Banyak obyek wisata yang menjadi andalan di Palopo. Baik yang jenisnya wisata alam, religi maupun budaya. Diantaranya Bukit Sampodo di Palopo, Pantai Songka di Wara Selatan, Lahan Palopo di Palopo, Rumah Adat Langka E di Wara, Masjid Jami Tua di Wara, Pelabuhan Tanjung Ringgit di Wara Utara, Pulau Libukang di Wara Utara, dan Sungai Latupa di Wara.

Hasil pembangunan ekonomi daerah ini masih diperoleh dari pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Oleh sebab itu, fokus pembangunan ekonomi ke depan harus tetap mengacu pada semua hasil-hasil tersebut. Sambil menyiapkan infrastruktur untuk membangun industri makanan, minuman, dan yang terkait dengan hasil pertanian. Jika semua itu dapat dipersiapkan dengan baik dan benar, niscaya pundi-pundi keuangan daerah pasti akan bertambah dan diharapkan kesejahteraan rakyat akan meningkat.


Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kota+Palopo

Sumber Gambar:
http://maps.google.com/
http://zulhamhafid.files.wordpress.com/2009/07/palopo1.jpg
http://i147.photobucket.com/albums/r307/metalgrin/palopo1.jpg

Sejarah Kabupaten Wajo



Wajo berarti bayangan atau bayang bayang (wajo-wajo).Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat baru 605 tahun yang lalu yang merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu. Bupati Wajo: Drs.Andi Burhanuddin Undru,MM

Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo=bugis)pohon bajo diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat membentuk kerajaan wajo Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo.

Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo yaitu kisah We Tadampali seorang putri dari kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. beliau dihanyutkan hingga masuk daerah tosora. Daerah itu kemudian disebut majauleng berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli'(kulit. Konon kabarnya beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai sakkoli (sakke'=pulih ; oli = kulit) sehingga beliau sembuh.

Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru. Sehingga suatu saat datang seorang pangeran dari bone (ada juga yang mengatakan soppeng) yang beristirahat didekat perkampungan we tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja wajo Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagai mana kerajaan kerajaan di sulawesi selatan umumnya. Tipe kerajaan wajo bukanlah feodal murni tapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.

Dalam sejarah perkembangan kerajaan wajo, wajo mengalami masa keemasan pada zaman La tadampare puang rimaggalatung Arung Matowa Wajo ke-6 pada abad 15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk Islam.

Pada abad 16 dan 17 terjadi persaingan antara kerajaan makasar (Gowa tallo) dengan kerajaan bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi gowa Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke belanda. Saat gowa dikalahkan oleh armada gabungan bone, soppeng, voc dan buton, Arung matowa wajo pada saat itu La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian Bungayya.

Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan wajo, tepatnya benteng tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan bone dibawah pimpinan Arung Palakka.

Setelah wajo ditaklukkan, tibalah wajo pada titik nadirnya. Banyak orang wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah.

Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir beliau memerdekakan wajo. Sehingga beliau mendapat gelar (Petta Pamaradekangngi Wajo) tuan yang memerdekaakan wajo.

Arung Matowa Wajo masih kontroversi, versi pertama pemegang jabatan arung matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai arung matowa wajo ke-45 setelah beliau terjadi kelowongan hingga wajo melebur ke Republik versi kedua hampir sama dengan pertama, tapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan arung matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke republik versi ketiga setelah lowongnya jabatan arung matowa, maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat arung matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan wajo diserahkan kepada gubernur sulawesi saat itu, bapak Ratulangi demikianlah sejarah wajo hingga melebur ke republik ini hingga kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.

Kabupaten Wajo dulunya terdiri dari 10 kecamatan, akan tetapi sejak tahun 2000 terjadi pemekaran hingga saat ini terdapat 14 kecamatan.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wajo

Sumber Gambar:
http://regionalinvestment.com/sipid/id/area.php?ia=7313
http://alijinnah-ewako.blogspot.com/2009/07/mengulas-sejarah-kemerdekaan-wajo.html

Kab Toraja Utara


Kabupaten Toraja Utara adalah sebuah kabupaten baru yang dibentuk sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Tana Toraja. Dengan dibentuknya kabupaten Toraja Utara, maka wilayah kabupaten Tana Toraja terbagi ke menjadi dua wilayah pemerintahan, yaitu kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale, dan kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao.

Dasar hukum pemekaran ini adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008. Proses pengajuan usulan pemekaran sendiri melalui jalan yang panjang selama beberapa tahun.

Setelah melalui proses yang sempat menimbulkan pro dan kontra di antara masyarakat toraja sendiri, pembentukan kabupaten Tana Toraja akhirnya ditetapkan melalui sidang paripurna DPR-RI pada tanggal 24 Juni 2008. Namun demikian, peresmian Kabupaten Toraja Utara dilakukan dua bulan kemudian, yaitu dirangkaikan dengan peringatan hari ulang tahun Tana Toraja yang ke-761 dan ulang tahun kabupaten Tana Toraja yang ke-51, yaitu pada tanggal 31 Agustus 2008.

Catatan :

Rantepao adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Rantepao juga merupakan ibukota Kabupaten Toraja Utara. Rantepao dikenal sebagai pusat budaya Suku Toraja.

Kota Rantepao dilalui oleh Sungai Sa'dan yang memberikan sumber air bagi pertanian dan peternakan di Rantepo dan wilayah sekitarnya.



Kecamatan :

Kecamatan
- Awan Rante Karua
- Balusu
- Bangkelekila
- Baruppu
- Buntao
- Buntu Pepasan
- Dende' Piongan Napo
- Kapala Pitu
- Kesu
- Nanggala
- Rantebua
- Rantepao
- Rindingallo
- Sa'dan
- Sanggalangi
- Sesean
- Sesean Suloara
- Sopai
- Tikala
- Tallunglipu
- Tondon


Sumber :
http://www.torajaland.com/live/kabupaten_toraja_utara
http://id.wikipedia.org/wiki/Rantepao,_Toraja_Utara

Sumber Gambar:
http://i64.photobucket.com/albums/h184/balao_2006/toraja/rantepao1.jpg

Tanah Toraja, Andalan Wisata Sulawesi Selatan


Tanah Toraja, merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.

Saking begitu melekatnya image Tanah Toraja dengan bangunan rumah adatnya ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri “matahari terbit” itu. Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negari sakura. Sekarang di Jepang, sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan yang asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tanah Toraja hanya terletak di atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).

Masih banyak lagi daya tarik dari Tanah Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun.

Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat “mengubur” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas pohon tarra yang buahnya mirip buah sukun yang biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat itu dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon itu dilubangi kemudian mayat bayi diletakkan ke dalam kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang pohon Tarra tersebut. Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.

Untuk menuju Tanah Toraja yang mengagumkan ini terdapat jalur penerbangan domestik Makassar - Tanah Toraja yang saat ini hanya sekali seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang, yang memakan waktu 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan ini membutuhkan waktu selama tujuh jam.

Event menarik di kawasan wisata ini yaitu adanya upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Selain event tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk “kontainer” ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. Bagaimana? Tertarik melihat keunikan wisata budaya ini? (*/cax)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/a/tanah-toraja-andalan-wisata-sulawesi-selatan.html
5 Januari 2007

Sumber Gambar:
http://home.planet.nl/~fortgent/Traveling/Indonesia/Toraja/Toraja_house_2.jpg

Potensi Pariwisata Kabupaten Takalar




Ditinjau dari sudut geografis letak Kabupaten Takalar sangat strategis karena hanya sekitar 40 km dari kota Makassar (ibukota Propinsi Sulawesi Selatan) dan berada pada posisi tiga dimensi yaitu Pegunungan dan Bukit, Daratan Rendah, serta Hamparan Laut, dengan demikian, kabupaten Takalar merupakan daerah yang memiliki beragam potensi wisata yaitu wisata alam/pegunungan, wisata pesisir/bahari, wisata budaya dan sejarah, serta agrowisata.

Luas wilayah kabupaten Takalar 566, 51 km2 dengan jumlah penduduk 232.396 jiwa, yang tersebar pada 7 Kecamatan dan 73 Desa dan Kelurahan. Struktur masyarakat yang tegolong seragam, termasuk agama, adat istiadat serta budaya masyarakat. Hal ini tergambar pada berbagai kegiatan ritual keagamaan maupun budaya.

Kondisi alam (pegunungan, pesisir, dan pertanian) ragam budaya, ritual keagamaan dan sejarah menyebabkan Takalar refresentatif sebagai daerah tujuan wisata (DTW) di Sulawesi Selatan - Indonesia.

1. Objek Wisata Perburuan Rusa
Kegiatan perburuan rusa merupakan kegiatan langka di sulawesi selatan. Sejak dulu kegiatan berburu rusa di desa Barugaya dan Ko'mara sudah sering dilakukan oleh para Bangsawan (Karaeng) pada hutan yang luasnya sekitar 2.000 Hektar. Setiap melakukan perburuan rusa, para Karaeng berkumpul di Baruga (Rumah Panggung) dan mempersiapkan perlengkapan berburu seperti pasukan berkuda, kentongan, dll.

Dengan melihat kondisi alam yang masih alami seperti pegunungan, danau, dan hutan, maka selain berburu rusa para pengunjung dalat menikmati pemandangan alam, melakukan kegiatan memancing, memanjat tebing, dan berbagai kegiatan lainnya.

2. Objek Wisata Sejarah Lapris (Ranggong Daeng Romo)
Pada tanggal 17 juli 1946 Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai Pucuk Pimpinan Laskar Pemberontak Rakyat Sulawesi (lapris) yang beranggotakan 19 organisasi kelaskaran diseluruh Sulawesi Selatan dan Tenggara. Dalam kedudukannya sebagai Panglima Lapris di desa Bulukunyi yang sekarang dijadikan sebagai Monumen Lapris.

Monumen Lapris yang dibangun di sebuah bukit didesa Bulukunyi sangat cocok dikunjungi oleh peneliti sejarah perjuangan bangsa dan para wisatawan karena pesona alam disekitar lokasi mendatangkan kesejukan tersendiri bagi pengunjung. Disamping itu, sekitar lokasi terdapat mata air yang dijadikan sebagai tempat permandian yang dikenal permandian alam saluka.

3. Objek Wisata Topejawa
Panjang Garis Pantai di Kabupaten Takalar sekitar 74 Km. Dari panjang garis pantai tersebut, terdapat 3 (tiga) Obyek wisata Pesisir dikabupaten Takalar (Pantai Topejawa, Pantai Galumbaya dan Pantai Ujungkassi) Permandian Alam Topejawa yang panjangnya sekitar 800 meter banyak dikunjungi karena suasana berenang di laut yang menyenangkan, selain itu panorama alamnya yang memukau.

Selain pemanfaatan sarana wisata pada lokasi permandian alam seperti balai-balai, baruga (rumah panggung), pelelangan ikan sertai berbagai fasilitas lainnya. Pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas pantai seperti berenang, berjemur, olahraga pantai, membakar ikan segar, berlayar dengan perahu tradisional (balolang), dan aktivitas pantai lainnya.

4. Objek Wisata Pulau Sanrobengi
Sanrobengi adalah pulau kecil yang memiliki potensi sebagai pusat kunjungan karena selain berpasi putih juga dapat dilakukan kegiatan-kegiatan laut seperti berenang, menyelam, berjemur, memancing, membakar ikan segar, dan berbagai kegiatan laut lainnya.

Selain kegiatan laut, pulau Sanrobengi ditunjang oleh sarana pendukung TPI Di Desa Boddia, dan dermaga lainnya.

5. Objek Wisata Terumbu Karang Pulau Tanakeke
Kepulauan Tanakeke terdiri atas Pulau Tanakeke, Bauluang, Satanga, dan Dayang-dayangan menyimpan perpaduan objek wisata alam yaitu agrowisata, berburu/atraksi menangkap ikan, pantai dan penyelam.

Pulau-pulau tersebut menyimpan keanekaragaman hayati yang unik, yaitu ikan Baronang, Biawasa, Kepiting Dato, dengan ukuran cangkangnya mencapai 25 cm, hutan bakau, padang lamun yang tumbuh di pasir putih, cocok untuk permandian alam jemur di pasir putih sambil menikmati hidangan khas bakar ikan laut, dan terumbu karangnya yang asri, cocok untuk penyelam.

6. Objek Wisata Benteng Sanrobone
Pembuatan tembok dan dinding benteng Sanrobone dilakukan oleh Dampang Panca Belong (Raja I Kerajaan Sanrobone) atas perintah Raja Gowa dan dikerjakan oleh rakyat secara gotong royong sekitar abad XVI. Benteng Sanrobone terbuat dari batu bata dan terbentuk perahu dengan panjang sekitar 3,7 km.

Benteng tersebut mempunyai 7 pintu benteng yaitu 4 pintu besar searah dengan mata angin dan 3 pintu kecil. Beberapa bukit sejarah diantaranya, Meriam dengan berat sekitar 150 kg, keris pusaka, dan makam Raja Sanrobone (kabbanga) Benteng ini menarik dikunjungi karena bernilai sejarah masa lalu mengenai keberadaan dan perjuangan Kerajaan Sanrobone di Sulawesi Selatan.

7. Objek Wisata Budaya Aru & Tari
Aru adalah pengakuan kesetiaan hamba kepada rajanya yang dikreasikan dalam bentuk budaya Angngaru. Tari adalah bentuk kegembiraan yang sering dipertontongkan dalam bentuk acara seremonial. Beberapa bentuk tarian tersebut sebagai berikut :
- Tari Padduppa adalah tari pemujaan kepada leluhur.
- Tari bunga Maulena Cikowang adalah tari yang menggambarkan proses
Maudu Lompoa (Maulid Nabi Besar Muhammad SAW) di Desa Cikoang.
- Tari Paddekko adalah tari kegembiraan atas keberhasilan panen yang
melimpah.
- Tari Pakurru Sumanga' adalah tari penjemputan tamu agung.
- Tari Pakarena adalah tari yang menceritakan mahluk-mahluk di kayangan dan
di bumi tidak akan bertemu lagi sehingga manusia di kayangan mengajarkan
cara bersahabat, menjaga anak dan sebagainya.

8. Objek Wisata Budaya Maudu Lompoa
Maudu Lompoa adalah peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, dan merupakan objek wisata ritual yang memadukan antara kegiatan keagamaan dan pertunjukkan budaya. Peristiwa ini digelar setiap tahun di desa Cikoang yang dimulai dari proses 10 Sapar sampai pelaksanaannya 12 Rabiul Awal setiap tahunnya.

Hal yang menarik dari Maudu Lompoa adalah munculnya suatu kekuatan yang terorganisir dari kaum Sayyid Jalaluddin yang diapresiasikan lewat kreasi bakul maudu' rate' dan barasanji, karnaval perahu dan telur hias, pencat silata, lomba dayung, dan lomba menangkap itik di sungai.

9. Objek Wisata Bendungan Pammukulu & Bissua
Bendungan Pammukulu dan Bissua merupakan pembendungan sungai Pammukulu dan sungai Jeneberang untuk irigasi teknis pertanian.

Bendungan tersebut mampu mengairi sawah seluas 12.016,5 ha dari 16.436,22 ha luas persawahan. Panjang pengairan mencapai 101.715 km, yang terdiri atas 19.162 km saluran primer dan 82.553 km saluran sekunder.

10. Agro Wisata
Salah satu hasil pertanian yang menjadi andalan kabupaten Takalar adalah sayur mayur yang berpusat di desa Bontolebang Kecamatan Galesong Utara. Sayur yang dikembangkan adalah bayam, sawi, kangkung, bawang, kacang panjang, tomat, cabe, dll. Tempat ini cocok untuk kunjungan riset dan kegiatan yang berorientasi agribisnis.

Buah khas kabupaten Takalar adalah jagung pulud, jagung ketan, semangka dan mangga yang dapat dinikmati masih dalam olahan alaminya di sentra-sentra komersialisasi buah tersebut. Aroma dan rasanya menggambarkan kesegaram buah asal Takalar yang khas.

11. Objek Wisata Industri
Kabupaten Takalar memiliki industri strategis untuk pengembangan daerah dan penanaman investasi yang menjanjikan. Industri tersebut adalah pabrik gula Takalar, pabrik pengolahan rumput laut, shirimp hatchery and ikan bandeng.

Pabrik gula takalar merupakan industri hilir yang mengelola gula mulai dari bentuk mentah yaitu penanaman tebu hingga siap di komsumsi dalam bentuk gula. Gula tersebut dipasarkan hingga ke bagian timur Indonesia. Sedangkan pabrik pengolahan rumput laut memperoleh bahan baku antara lain dari kepulauan Tanakeke, untuk selanjutnya diolah dengan mencuci, memasak memotong, mengeringkan, dan menggiling, serta mengemasnya untuk ekspor. Industri tersebut menarik dikunjungi untuk pengetahuan, penelitian, atau studi perbandingan, baik oleh kalangan akademisi, instansi, ataupun umum.

12. Taman Wisata Kota Patung
Salah satu taman kota yang terletak di tengah kota Takalar adalah objek wisata taman kota patung Ranggong Daeng Romo, Beberapa sarana pendukung yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi masyarakat, antara lain Show Room Home Industri, Warung PKK, dan tempat santai pada Taman Ranggong Daeng Romo.

Show Room Home industri menyajikan berbagai kerajinan tangan khas tradisional dan kedaerahan, seperti gerabah, tembikar, songkok guru, bosara, dan cinderamata lainnya. Tidak akan sempurna kunjungan anda ke Takalar, apabila tidak membawa ole-ole Takalar yang disajikan di show room home industri tersebut

13. Ole-Ole Takalar
Tidak akan sempurna kunjungan anda ke Kabupaten Takalar, apabila tidak membawa Ole-ole Takalar, baik untuk keluarga, teman, maupun untuk koleksi pribadi. Ole-ole Takalar terletak di Show Room Home Industri di tengah kota Takalar dengan produk khas tradisional dan kedaerahan yaitu gerabah, tembikar, songkok guru, bosara dan cinderamata lainnya.

14. Fasilitas & Pelayanan
Fasilitas dan pelayanan yang mendukung wisata di Takalar meliputi :
a. Penginapan
Tersedia pada setiap ibukota kecamatan dan sekitar objek wisata
b. Rumah Makan
Tersedia pada setiap ibukota kecamatan dan sekitar objek wisata.
c. Warung khas Coto Makassar
d. Transportasi
- Angkutan darat (Mikrolet, Ojek, Motor Becak, Becak)
- Angkutan Laut (Kapal pipa piber, Jolloro, Balolang)
e. Kerajinan Tangan
- Gerabah
- Songkok Guru
- Tikar
- Bosara
f. Sarana Penunjang Lainnya
- Telkom dan Wartel/Yantel
- Bank Rakyat Indonesia
- Bank Pembangunan Daerah
- Bank BNI
- BPR/BMT Koperasi
- Pos dan Giro
- Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu


Sumber :
Kantor Pariwisata Kabupaten Takalar, dalam :
http://www.takalarkab.go.id/?pilih=hal&id=35

Sumber Gambar:
http://regionalinvestment.com/sipid/id/area.php?ia=7305
http://www.takalarkab.go.id/albums/normal/20071108081238@Peta_Administrasi_KabTakalar.jpg
http://distan.bkc.co.id/foto/image/Takalar.gif

Kabupaten Soppeng



Kabupaten Soppeng adalah salah satu Daerah Tingkat II di Propinsi Sulawesi Selatan. Ibu kotanya terletak di Watansoppeng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.500 Km2 dan berpenduduk sebanyak 222.798 jiwa, dimana 104.455 jiwa adalah pria dan 118.343 jiwa adalah wanita.

Kabupaten Soppeng tidak memiliki wilayah pantai. Wilayah perairan hanya sebagian dari Danau Tempe. Wilayahnya subur, membuat kabupaten ini memiliki keunggulan dalam hal pertanian. Kontribusi pertanian dalam pembentukan PDRB Soppeng 2005 mencapai 43,39 persen atas dasar harga konstan 2000. Kontribusi ini bernilai Rp 129,9 milyar lebih.

Hampir semua jenis tanaman baik pangan, palawija, sayuran, buah-buahan dan perkebunan terdapat di Soppeng. Produk padi pada tahun 2005 mencapai 215.973 ton. Tanaman padi menyebar merata di semua kecamatan. Produksi padi terbesar berasal dari Kecamatan Lili Riaja, Mario Riawa, dan Ganra. Untuk palawija, Soppeng juga dikenal penghasil jagung. Total output jagung pada tahun 2005, mencapai 13.270 ton. Adapun kecamatan yang paling banyak memproduksi jagung adalah Lili Rilau dan Mario Riawa.

Untuk produksi palawija lainnya yang relatif besar adalah ubi kayu dengan total output 146 ton. Kecamatan yang banyak menghasilkan ubi kayu adalah Kecamatan Lili Rilau dan Lili Riaja. Selain itu Soppeng juga terkenal dengan hasil kedelai 3.240 ton dan kacang tanah 2.988 ton. Kedelai banyak terdapat di Mario Riawa sedangkan kacang tanah di Lili Riaja.

Untuk tanaman jenis sayuran, Soppeng juga terkenal sebagai penghasil produksi bayam 210 ton, kacang panjang 580 ton, cabe besar 32 ton, kangkung 310 ton, ketimun 150 ton, terung 230 ton, dan tomat 300 ton. Konsentrasi produksi sayuran di Kecamatan Mario Riwawo, Maria Riawa, dan Lili Rilau.

Tanaman buah-buahan juga banyak terdapat di Soppeng. Mulai dari alpukat, mangga, nangka, nanas, pepaya, pisang, dan salak merupakan bagian dari hasil pertanian Soppeng. Produk terbesar dari hasil buah-buahan adalah mangga dan pisang. Hasil panen mangga mencapai 85.155 ton, sedangkan hasil panen pisang mencapai 31.940 ton. Hasil mangga banyak berasal dari Kecamatan Mario Riwawo dan Lili Riaja sedangkan hasil pisang banyak berasal dari Mario Riwawo dan Donri-Donri.

Di Soppeng juga banyak ternak. Mulai peternakan besar sampai peternakan kecil dan unggas. Peternakan besar terdiri dari Sapi, Kuda, dan Kerbau. Untuk peternakan besar, populasi terbesar adalah Sapi. Populasi Sapi tahun 2005 mencapai 11.742 ekor dan banyak terdapat di Mario Riwawo, Lili Riaja, dan Donri-Donri. Untuk peternakan kecil terdapat Kambing. Populasi Kambing 8.086 ekor dan terkonsentrasi di Kecamatan Lili Rilau dan Lili Riaja. Sedangkan untuk peternakan unggas, masyarakat menyukai ternak Ayam Buras, Ayam Ras dan Itik. Populasi Ayam Buras mencapai 404.276 ekor, Ayam Ras 150.466 ekor, dan Itik 191.475 ekor. Ternak unggas banyak terdapat di Ganra, Donri-Donri, dan Lili Riaja.

Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Soppeng

Sumber Gambar;
http://distan.bkc.co.id/foto/image/Soppeng.gif
http://regionalinvestment.com/sipid/id/area.php?ia=7312

Kabupaten Sinjai


Kabupaten Sinjai adalah salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan ibu kota Sinjai. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 819,96 Km2 dan berpenduduk 220.430 jiwa, terdiri dari pria 105.953 orang dan wanita 114.477 orang. Kabupaten ini membawahi 9 kecamatan dengan karakter pendidikan penduduk setempat 48,3 persen tidak tamat pendidikan, 31,5 persen tamat pendidikan dasar. Artinya 79,8 persen masyarakat Sinjai masih berpendidikan rendah.

Sektor pertanian merupakan sektor primadona di Kabupaten Binjai. Kontribusi sektor ini pada pembentukan PDRB mencapai 61,6 persen atau setara dengan Rp 490,72 milyar (atas dasar harga konstan 2000). Binjai tidak hanya menghasilkan padi dan palawija, namun juga penghasil ternak dan perkebunan. Ternak di Binjai terbagi dalam ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Ternak besar terdiri dari Sapi dengan populasi 40.372 ekor, Kerbau 2.025 ekor, dan Kuda 2.331 ekor. Sapi banyak terdapat di Kecamatan Tellu Limpoe, Sinjai Selatan, Sinjai Timur, dan Sinjai Tengah. Kerbau banyak terdapat di Tellu Limpoe, Sinjai Timur, dan Bulupoddo. Sedangkan Kuda banyak terdapat di Kecamatan Tellu Limpoe, Sinjai Timur Sinjai Selatan, dan Sinjai Borong.

Untuk ternak kecil yaitu Kambing memiliki populasi sebanyak 19.738 ekor dan banyak terdapat di Kecamatan Bulupoddo, Tellu Limpoe, dan Sinjai Tengah. Untuk ternak unggas, populasi terbesar berasal dari ternak Ayam Ras dengan populasi 668.432 ekor, kemudian diikuti Ayam Ras 171.250 ekor, dan Itik 35.803 ekor. Ayam Ras banyak terdapat di Sinjai Utara dan Selatan sedangkan Ayam Buras banyak terdapat di Tellu Limpoe dan Sinjai Utara. Ternak Itik banyak terdapat di Sinjai Utara, Tellu Limpoe, dan Sinjai Selatan.

Hasil perkebunan yang ada di Binjai berupa kelapa dalam sebanyak 5.383 ton, kelapa hibrida 100 ton, kopi 3.445 ton, cengkeh 1.591 ton, lada 2.361 ton, cokelat 2.129 ton, kemiri 959 ton, kapuk 656 ton, vanili 859 ton, dan tembakau 1.447 ton. Kelapa hibrida dan kelapa dalam banyak terdapat di Kecamatan Sinjai Timur dan Selatan.

Sedangkan kopi banyak terdapat di Kecamatan Sinjai Barat, Sinjai Borong, dan Sinjai Tengah. Produk cengkeh banyak terdapat di Kecamatan Tellu Limpoe, Sinjai Selatan, dan Sinjai Tengah. Produk lada dan cokelat banyak terdapat di Tellu Limpoe, Sinjai Selatan, dan Sinjai Tengah. Kemiri banyak dihasilkan di Kecamatan Sinjai Tengah, Kapuk di Tellu Limpoe, vanili di Sinjai Selatan, dan tembakau di Sinjai Borong.

Untuk perindustrian, Kecamatan Sinjai Utara dan Sinjai Selatan menjadi pusat lokasi industri. Dari total 99 unit industri besar yang berada di Sinjai 70 unit, ada di dua kecamatan ini. Bahkan Kecamatan Sinjai Utara juga menjadi pusat industri kelas menengah dan kecil. Total industri berukuran sedang mencapai 71 unit usaha dan 31 unit usaha ada di kecamatan ini. Demikian juga dengan industri berskala kecil. Dari total 118 unit industri kecil, 65 industri kecil berada di Kecamatan Sinjai Utara. Dari pendekatan ekonomi berbasis geografis, klaster industri di Kabupaten Sinjai tepat jika dikelompokkan di Kecamatan Sinjai Utara dan Sinjai Selatan.


Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Sinjai

Sumber Gambar:
http://distan.bkc.co.id/foto/image/Sinjai.gif

Kabupaten Sidenreng Rappang



Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta'at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.


Sejarah

Di daerah ini pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama 'Nenek Mallomo'. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade'e De'nakkeambo, de'to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara' La Toa, Nenek Mallomo disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para

Pallontara' (ahli mengenai buku Lontara') dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu'mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sidenreng_Rappang

Sumber Gambar:
http://regionalinvestment.com/sipid/id/area.php?ia=7314
http://www.panoramio.com/photo/18132870

Kamis, 25 Februari 2010

Kilas Sejarah Pinrang


Tersebutlah suatu peristiwa di Sawitto pada waktu pemerintahan La Paleteang Raja IV, Kerajaan Sawitto. Dimana pada waktu itu terjadi peperangan antara Sawitto dan Gowa, Perang ini terjadi karena Gowa sebagai kerajaan besar, berusaha untuk menguasai Sawitto yang kondisi dan potensinya menjanjikan setumpuk harapaan. Berbagai upaya yang telah digunakan Gowa untuk menguasai Sawitto melalui agresi dan terjadilah perang antar Sawitto dan Gowa sekitar Tahun 1540.

Prajurit - parjurit Sawitto dengan gigih mengadakan perlawanan abdi kerajaan mati - matian mempertahankan dan membela bumi ini berkesudahaan dengan kekalahan dipihak Sawitto sehingga raja La Paleteang dan isterinya dibawa ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto. Awan yang meliputi kesedihan rakyat atas kepergian sang raja yang arif dan bijaksana. Upaya yang dilakukan membebaskan sang raja bersama permaisuri kerajaan Sawitto. Akhirnya dalam suatu musyawarah kerajaan terpilih dua Tobarani, yaitu Tolengo dan To Kipa untuk mengemban tugas membebaskan sang raja beserta permaisurinya. Kemudian berangkatlah kedua bersaudara tersebut ke Gowa yang berhasil membawa pulang raja La Paleteang beserta permaisurnya. Kedatangan raja bersama permaisuri, disambut dengan luapan kegembiraan dan di elu - elukan sepanjang jalan menuju istana. dibalik kegembiraan itu, mereka terharu melihat kondisi sang raja yang mengalami banyak perubahan seraya mengatakaan " PINRA KANA NI TAPPA NA DATUE POLE RI GOWA " Yang artinya wajah raja menagalami perubahan sekembali dari Gowa. Kata-kata inilah senantiasa terlontar dari orang - oraang yang menyertai sang raja. Ketika raja beristrahat sejenak sebelum tiba di istana bertitahlah sang raja kepada pengantarnya untuk menyebut tempat tersebut dengan nama PINRA.

Sumber lain ini mengatakan pemukiman kota Pinrang yang dahulunya rawa-rawa yang selalu tergenang air membuat masyarakat senantiasa berpindah-pindah mencari wilayah pemukiman yang bebas genangan air, berpindah-pindah atau berubah-ubah pemukiman, dalam bahasa bugis disebut "PINRA - PINRA ONROANG" setelah masyarakat menemukan tempat pemukiman yang baik, maka diberinya tempat tersebut:PINRA-PINRA.Dari kedua sejarah yang berbeda itu lahirlah istilah yang sama yaitu " PINRA " kemudian kata itu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh intonasi dan dialek bahasa bugis sehingga menjadi Pinrang yang sekarang ini diabadikan menjadi Kabupaten Pinrang.

Sebagaimana diketahui bahwa ketika jepang masuk di pinrang sekitar tahun 1943 sistem Pemerintahan warisan kolonial dengan struktur lengkap yang terdiri dari 4 (Empat) swapraja, masing - masing Swapraja Sawitto, Swapraja Batu Lappa, Swapraja Kassa dan Swapraja Suppa. Ketika Pinrang menjadi onder-afdeling di bawah afdeling Parepare Sementara afdeling Parepare adalah salah satu afdeling dari tujuh afdeling yang ada di propinsi Sulawesi.

Dengan ditetapkannya PP Nomor 34/1952 tentang perubahan daerah Sulawesi selatan,pembagian wilayahnya menjadi menjadi daerah swatantra. Pertimbangan diundangkannya PP tersebutadalah untuk memenuhi keinginan rakyat dan untuk memperbaiki susunan dan penyelenggaraan pemerintahan. Daerah swantantra yang dibentuk adalah sama dengan wilayah afdeling yang ditetapkan dalam keputusan Gubernur Timur besar (GROTE GOSTE) tanggal 24 juni 1940 nomor 21, kemudian diubah oleh Keputusan Gubernur Sulawesi nomor 618/1951.Perubahan adalah kata afdeling dirubah menjadi daerah swatantra dan onder afdeling menjadi kewedaan. Dengan perubahan tersebut maka onder afdeling pinrang berubah menjadi kewedanaan pinrang yang membawahi empat swapraja dan distrik.dengan status demikian inilah pemerintahan senantiasa mengalami pasang surut ditengah-tengah pasang surutnya keadaan pemerintahan, upaya memperbaiki struktur dan penyelenggaraan pemerintahan di satu sisi,disamping memenuhi kebahagiaan dan keinginan rakyat. Maka pada tahun 1959 keluarlah satu undang-undang yang dikenal dengan undang-undang nomor 29/1959 yang berlaku pada tanggal 4 juli 1959 tentang pembentukan daerah-daerah TK.II di Sulawesi yang praktis. Membentuk Daerah Tingkat II Pinrang pula.namun hal ini belum dapat dijadikan sebagai patokan lahirnya Kabupaten Daerah TK.II Pinrang.Berhubung unsur Pemerintahannya yang merupakan organ atau bagian yang belum ada.

Setelah keluarnya surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: UP-7/3/5-392 tanggal 28 januari 1960 yang menunjuk H.A.MAKKOELAOE menjadi Kepala DaerahTK.II Pinrang. Karena pada saat itu unsur atau organ sebagai perangkat daerah otonomi telah terpenuhi. kemudian dikaji melalui suatu simposium yang dilakukan oleh kelompok pemuda khususnya KPMP Kabupaten Pinrang dan diteruskan kepada DPRD untuk dituangkan kedalam suatu PERDA tersendiri. 


Sumber :

http://pinrangkab.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4&Itemid=10

Sumber Gambar:

http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/pinrang.jpg

Profil Kabupaten Pangkajenen dan Kepulauan (Pangkep)



Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan ini merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki luas wilayah secara keseluruhan 1.112,29 Km2 ini terbagi menjadi 12 Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Barru di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah selatan, kabupaten Bone di sebelah timur, serta Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Madura si sebelah barat.

Di suatu wilayah daerah kepulauan potensi kelautan dan perikanan adalah anugerah yang sudah didepan mata juga kekayaan alam atas bahan galian tambangini memberi arti pada kelancaran denyut nadi ekonomi daerah ini. Pegunungan kapur atau karst yang berdiri tegak dikawasan yang berbatsan dengan Kabupaten Maros inilah dihasilkan ribuan ton batu kapur untuk bahan baku semen dan marmer untuk bahan bangunan. Karst ini juga mampu menarik pengusaha lokal berinvestasi dengan membangun pengolahn marmer di Pangkep. Beberapa tambang marmer yang tercatat sudah dieksplorasi berada di Kecamatan Bungoro, Labkkang, baloci, dan Tondong Talasa. Di Kecamatan Bungoro ini juga terdapat tambang batu kapur yang dikelola pabrik semen PT Semen Tonasa. Keberadaan perusahaan-perusahaan penambangan dan pengolahan bahan galian tersebut diharapkann memberi sumbangan bagi kas daerah. 


Pemandangan tambak di Pangkep menjadi ciri Kabupaten ini selain gugusan pegunungan batu kapur, dapat dikatakan menambak merupakan salah satu lapangan usaha utama yang digeluti penduduk selain industri. Sementara, hasil perikanan laut Pangkep seperti ikan kembung, layang, tuna, tembangdan lain-lain sebagian diekspor ke mancanegara selain untuk konsumsi lokal. Perikanan darat juga tetap menjadi andalan, Pangkep adalah kota tambak udang windu dan ikan bandeng yang hasilnya selain dinikmati pasar lokal juga diekspor ke negara-negara Asia. 

Satu sektor lain yang juga digarap serius adalah pariwisata kawsan pegunungan Tompo Bulu akan dikelola menjadi obyek wisata seperti puncak Bogor atau setidaknya seperti kawasan puncak Malino di Kabupaten Gowa. Kelangkapan infrastruktur jalan pun sedang dipersiapkan untuk menunjang pariwisata dan kegiatan perekonomian yang lain yang dapat memberikan kemajuan bagi daerah ini.


Sumber Data:
Sulawesi Selatan Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Sulawesi Selatan
Jl. Penancangan No. 4, Serang 42124
Telp (0254) 202315


Catatan

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (dulu bernama Pangkajene Kepulauan, biasa disingkat Pangkep) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibukotanya adalah Pangkajene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km². Tetapi setelah diadakan analisa bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 Km2 dengan luas wilayah daratan 898,29 Km2 dan wilayah laut 11.464,44 Km2.


Kabupaten Pangkep berpenduduk sebanyak ±250.000 jiwa.

Asal kata Pangkajene dipercaya berasal dari sungai besar yang membela kota Pangkep. Pangka berarti cabang dan Je'ne berarti air. Ini mengacu pada sungai yang membela kota pangkep yang membentuk cabang.


Sumber :

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7309

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pangkajene_dan_Kepulauan


Sumber  Gambar:

http://distan.bkc.co.id/foto/image/Pangkajene.gif

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7309

Profil Kabupaten Maros


Kabupaten Maros terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, secara geografis terletak antara 40o45 - 50o07 LS dan antara 109o205 - 129o12 BT. Kabupaten ini sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, sebelah selatan berbatsan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, sebeelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bone dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar dan memiliki luas wilayah 1.619,12 Km2.

Secara admistratif Kabupaten terbagi menjadi 14(empat belas) Kecamatan dan 103 Desa atau kelurahan. Kabupaten Maros pada memiliki beberapa komoditi unggulan. Di sektor perkebunan. Komoditi yang dihasilkannya antara lain berupa jambu mete sebesar 735 ton, kakao sebesar 514 ton, dan kelapa dalam sebesar 290 ton.

Sektor perikanan dan kelautan di Kabupaten Maros meliputi perikanan laut dan perikanan darat. perikanan darat adalah yang paling dominan di Kabupaten Maros berupa ikan bandeng dan udang windu yang menjadi andalan di sub sector perikanan dan kelautan yang pasarnya masih terbuka lebar baik untuk domestic maupun manca negara selain itu wilayah pesisir Kabupaten Maros yang terbentang sepanjang 31 km sangat cocok untuk budi daya rumput laut. 

Pada sub sektor pertanian komoditas padi merupakan andalan Kabupaten Maros dan menjadi salah satu sentra produksi beras di Sulawesi Selatan disamping produk pertanian lainnya seperti jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar.

Pada potensi sub sektor perikanan Kabupaten Maros meliputi jenis ternak besar dan keci seperti sapi, kerbau, kuda dan kambing sedangkan jenis ternak unggas meliputi ayam kampung. ayam ras dan itik. Sedangkan untuk Potensi sub sektor pertambangan Kabupaten Maros memiliki potensi yang sangat besar, beberapa industri pertambangan yang cukup besar beroperasi di Maros seperti Pabrik Semen dan Industri pengolahan marmer dan penambangan bahan tambang galian C dengan sistem penambangan terbuka. Kabupaten ini juga memiliki berbagai sarana dan prasarana penunjang diantaranya jalan darat serta dukungan sarana pembangkit tenaga listrik, air, gas dan telekomunikasi.



Sumber Data:
Sulawesi Selatan Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Sulawesi Selatan
Jl. Penancangan No. 4, Serang 42124
Telp (0254) 202315

Fax (0254) 202315

Dumber :

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=7308

Selayang Pandang Luwu Timur




Kabupaten Luwu Timur merupakan Kabupaten baru sebagai pemekaran dari Kabupaten Luwu Utara. Secara definitif Kabupaten Luwu Timur berdiri pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 tahun 2003 dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 3 Maret 2003.

Diusianya yang terbilang masih belia, Luwu Timur yang berjuluk Bumi Batara Guru ini mengalami kemajuan yang sangat pesat di segala bidang. Capaian pertumbuhan ekonomi secaran nasional dalam skala mikro dan makro, menunjukkan bahwa geliat pembangunan telah mendorong pertumbuhan ekonomi secara sinergis dan menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Prioritas pembangunan yang mengarah pada sektor pendidikan, kesehatan, pertanian dalam arti luas dan infrastruktur menunjukkan bahwa komitmen pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam percepatan dan pelaksanaan pembangunan berdasarkan prinsip adil dan merata.
Luwu Timur memiliki potensi pengembangan dan pertumbuhan yang prospektif di masa datang karena karakteristik khusus yang dimilikinya yaitu sebagai wilayah yang memiliki potensi kekayaan sumberdaya alam. Sehingga secara alamiah, Kabupaten Luwu Timur memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Sulawesi Selatan.

Dengan kebijakan - kebijakan daerah yang inovatif melalui penyederhanaan pelayanan birokrasi, kepastian hukum dan berbagai insentif investasi, Kabupaten Luwu Timur dapat memberikan keunggulan bersaing (competitive advantage) bagi dunia usaha untuk berinvestasi.


Catatan:

Kabupaten Luwu Timur adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Luwu Utara yang disahkan dengan UU Nomor 7 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003. Malili adalah ibu kota dari Kabupaten Luwu Timur, yang terletak di ujung utara Teluk Bone. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.944,98 km2. Di kabupaten ini terletak Sorowako, tambang nikel yang dikelola oleh INCO, sebuah perusahaan Kanada. Pada tahun 2008, Pendapatan Asli Daerahnya berjumlah Rp38,190 miliar.


Sumber :

http://www.luwutimurkab.go.id/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Luwu_Timur

Kabupaten Luwu Utara


Kabupaten Luwu Utara adalah salah satu kabupaten yang berada di Propinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki penduduk 267,779 jiwa, dimana 136,246 jiwa laki-laki dan 131,533 jiwa wanita. Masyarakat Kabupaten Luwu Utara sebesar 83 persen hanya lulusan pendidikan dasar. Bahkan 60 persen dari mereka tidak lulus pendidikan dasar. Keterbatasan pendidikan menjadi cermin bahwa aktivitas ekonomi di wilayah tersebut tidak banyak membutuhkan skill sehingga wajar jika perekonomian di kabupaten ini lebih terkonsentrasi ke sektor pertanian. Kabupaten ini membawahi 11 kecamatan dengan total luas wilayah 7.501 Km2.

Hampir semua tanaman pangan tersebar merata di seluruh kecamatan. Mulai dari padi, jagung, ubi kayu tersedia di sana. Tanaman padi tersebar merata di seluruh kecamatan. Dari total produksi padi 197.528,23 ton sawah dan 6.770,91 ton padi ladang Kecamatan Malengka Barat dan Seko menjadi menyumbang lebih dari 50 persennya.

Jagung dan ubi kayu juga merupakan tanaman yang banyak diminati oleh petani di sana. Semua kecamatan yang ada turut dalam menaman tanaman pangan tersebut. Total produksi jagung mencapai 4.483,43 ton, sedangkan ubi kayu mencapai 2.957,77 ton. Produksi jagung terbesar terdapat di Kecamatan Baebunta, Sabbang, dan Bone-bone. Sedangkan produksi ubi kayu terbesar terdapat di Kecamatan Seko, Sabbang, dan Masamba.

Komoditi Luwu Utara lainnya adalah dari sektor perkebunan dan perikanan. Di sektor perkebunan, kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan dan Kabupaten Luwu Utara adalah kabupaten pengembang kelapa sawit terbesar di Sulawesi Selatan dengan jumlah produksi 35.314,52 ton. Selain sebagai penghasil kelapa sawit, Kabupaten Luwu Utara juga merupakan penghasil kakao terbesar di Sulawesi Selatan dengan jumlah produksi mencapai 43.574 ton (tahun 2004). Jumlah areal lahan penanaman kakao di Kabupaten Luwu Utara mencapai 48.444 Ha. Komoditi perkebunan lainnya adalah kelapa 1.478,38 ton per tahun, kopi 1.351,86 ton per tahun, dan cengkeh 195,3 ton per tahun.

Di sektor perikanan, Kabupaten Luwu Utara menghasilkan komoditi perikanan tangkap dengan jumlah produksi perikanan tangkap mencapai 7.524 ton pada tahun 2004. Komoditi ini merupakan salah satu komoditi unggulan di Kabupaten Luwu Utara. Sedangkan di sektor industri, terdapat industri pakan ternak jagung, industri pengolahan kopi, industri minyak atsiri, dan industri kelapa terpadu.

Ada sedikitnya tiga perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan. Sedangkan untuk peluang usaha yang terdapat di Kabupaten Luwu Utara antara lain finishing industri mini kapurung instant dan sagu, finishing industri mini batik rongkong Luwu Utara, pemasaran aneka produk makanan kering dan kerajinan tangan, pengembangan sarana dan pelatihan BAPPTEK dalam rangka penurunan SDM miskin, pelatihan aneka keterampilan bagi masyarakat miskin di daerah.


Sumber :

http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Luwu+Utara


Sumber Gambar:

http://www.luwuutara.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=130

Awal Sejarah Berkembangnya Kota Palopo


Tidak banyak tulisan mengenai awal berkembangnya kota Palopo. Sejarah Kota Palopo di info-palopo.com hanya mengurai dari sudut kesejarahan administrasi. Sudut budaya-sejarah Luwu, belum dikaji lebih dalam. Ternyata, dalam Buku “Ringkasan Sejarah Luwu: Bumi Sawerigading, Tana Luwu Mappatuwo” yang disusun Sarita Pawiloy, secara sederhana diuraikan awal berkembangnya Kota Palopo. Palopo berkembang di awal-awal kerajaan Islam Luwu tumbuh. Ketika itu Raja Luwu La Patiware Sultan Muhammad wafat dan digantikan anak mattola kedua(putera mahkota kedua), Patipasaung (1615-1637). Berdasarkan adat Luwu, anak mattola urutan pertama adalah Patiraja. Namun karena karakternya yang tidak terlalu disukai oleh kalangan bangsawan Islam (yang pada saat itu Islam adalah spirit Kerajaan Luwu), maka Patiraja tidak dipilih menjadi raja.

Terangkatnya adik Patiraja (Patipasaung) menjadi raja menimbulkan gejolak dalam Istana Luwu di Pattimang, Malangke. Beberapa petinggi istana yang mendukung Patiraja menolak keputusan adat yang menaikkan anak mattola kedua. Akhirnya Patiraja meninggalkan Pattimang dan hijrah ke Kamanre (eks pusat Kerajaan Luwu masa Dewaraja yang berkuasa sekitar 1530). Di Kamanre, Patiraja mengumumkan dirinya sebagai Datu Luwu dan diterima oleh seluruh Kemadikaan Ponrang (Cilellang, Bajo, Noling hingga Larompong). Dengan demikian, pada saat itu, ada dua pusat kerajaan Luwu (Ware’), yaitu yang pertama Luwu wilayah pengaruh Malangke (Baebunta hingga Poso), yang kedua Luwu wilayah pengaruh Ponrang (berpusat di Kamanre) meliputi Bajo, Ranteballa, Larompong sampai Akkotongeng. Sedangkan Kemadikaan Bua (meliputi Kolaka, Luwu Tenggara dan pula Palopo/Libukang) netral. Palopo kala itu merupakan perkampungan nelayan yang berpusat di Libukang.

Pada tahun 1616, perang saudara Luwu versi Pattimang versus Luwu versi Kamanre pecah. Perang ini terjadi selama kurang lebih 4 tahun, yang kemudian dikenal dengan Perang antara Utara dan Selatan. Hingga pada 1619, Maddika Bua berinisiatif untuk mencari solusi atas fenomena ini. Maka pada saat panen raya di Bua, Patiraja dan Patipasaung diundang oleh Maddika Bua. Mereka dibuatkan Baruga dengan 2 pintu masuk (utara-selatan). Pintu utara akan dimasuki oleh Patipasaung, dan pintu selatan oleh Patiraja. Mereka dipertemukan oleh Maddika Bua di ruang tengah baruga. Mereka kaget, lebih-lebih pada saat keduanya diserahi badik oleh Maddika Bua. Di ruang tersebut, hadir pula Madika Ponrang dan Makole Baebunta, yang kemudian oleh Madika Bua, beliau mempersilahkan Patipasaung dan Patiraja untuk bertarung. Madika Bua berkata “Wahai kedua junjungan kami, sudah tahunan rakyat saling membunuh, janda telah banyak, anak yatim sudah tidak terbilang lagi. Ini adalah akibat Luwu diperintah dua raja. Kami hanya menghendaki seorang”.

Pada saat itu, Patiraja insyaf. Ia berkata kepada Patipasaung “Wahai adikku. Engkaulah yang disukai oleh orang banyak. Aku ini, abangmu telah hanyut dalam gelora nafsu kekuasaan. Aku khilaf. Sebagian rakyat telah aku ikutkan dalam diriku. Terimalah badik ini, dan terima pula penduduk Kamanre seluruhnya ke dalam Luwu yang damai, tenteram dan sejahtera. Biarlah aku abangmu kembali ke Gowa di mana kita dilahirkan. Siapa tahu, Dewata Allah Taala menerima diriku di tanah leluhur kita”..

Inilah peristiwa yang kemudian menyatukan kembali Luwu. Patipasaung kemudian memindahkan Ware’ ke Palopo yang termasuk wilayah Bua. Ia kemudian pula mengukuhkan ‘anak telluE’ sebagai pilar utama Luwu. Patipasaung menata struktur pemerintahan Luwu, dimana kadhi berperan penting. Perpindahan pusat kerjaan Luwu ke Palopo dilanjutkan dengan pendirian Masjid Jami’. Masjid Jami’ yang dibangun 1619 kemudian dinyatakan oleh masyarakat Luwu sebagai pusat Palopo, bahkan posi’ tana, dan Ka’bah di Mekkah sebagai palisu tana. Arsitektur Kota Palopo ditata dengan pendekatan agar suasana ‘marowa’ tercipta. Empat puluh depa dari masjid dibangun pasar. Istana kediaman Datu juga 40 depa dari masjid. Jarak pasar dengan istana sekitar 80 depa. Dan antara ketiga bangunan itu adalah lapangan (di tengah). Arsitektur kota serupa kemudian dianjurkan di setiap wilayah kampung-kampung di Luwu. Demikianlah, Palopo kemudian menjadi pusat kerajaan Luwu hingga penjajah datang.

Sejak pindahnya pusat kedatuan ke Palopo, sejak itu pula Palopo menjadi barometer perkembangan Luwu. Masyarakatnya bangga menjadi To Ware. Pada tahun 1900, penduduk kota Palopo berjumlah sekitar 12.000 jiwa dari keseluruhan penduduk Luwu yang kurang lebih berjumlah 400.000 jiwa (termasuk Poso dan Kolaka). Palopo terdiri atas Kampung Tappong (kampung paling ramai dengan 120 rumah), Mangarabombang, PonjalaE (100 rumah), Campa, Bone, Parumpang, Amassangeng, Surutanga, Pajalesang, Bola Sada, Batupasi, Binturu (7 rumah), Tompotikka, WaruE, Songka, Penggoli, Luminda, Kampong Beru, Balandai (7 rumah), Rampuang dan Pulau Libukang. Pada masa itu, Latana datu Luwu, Andi Kambo adalah rumah panggung kayu bertiang 88 buah (LangkanaE). Bangunan itu dirobohkan oleh Belanda, dan digantikan dengan bangunan berarsitektur eropa pada tahun 1920 (hampir bersamaan dengan Rumah Sakit).


Sumber :

http://zulhamhafid.wordpress.com/2008/02/

16 Februari 2008

Sejarah Kabupaten Luwu

Sejarah

Kabupaten Luwu yang ada saat ini sejak awal adalah bagian integral dari “Kerajaan Luwu” yang semula berkedudukan di Ussu Malili.

(sekarang masuk wilayah Luwu Timur) sebagai pusat pengendalian pemerintahan yang dipimpin Pajung Luwu Pertama.

Dalam dinamika perkembangan sejarah Kedatuan Luwu, Ware’ (watampare) atau ibukota sebagai pusat pengendalian pemerintahan Kedatuan Luwu telah berpindah tempat beberapa kali antara lain; Pertama, mencapai wilayah Kab. Kolaka Utara. Kedua, Cilallang-Kamanre Kec. Kamanre. Ketiga,Pattimang Kec. Malangke dan Keempat atau terakhir ke Palopo.

Pada saat ibukota Pemerintahan Kedatuan Luwu berkedudukan di Kamanre, datu menempatkan petugas kedatuan (Pabbate-bate Rilaleng Pare) di Bajo, dengan gelar Sanggaria Bajo, yang bertugas mengawasi dan mengontrol keamanan lalu lintas perdagangan di Belopa dan Lamunre melalui pelabuhan Ulo-ulo.

Oleh karena tuntutan kebutuhan pemerintahan Kedatuan Luwu, maka abad ke-16 sebelum masehi diadakan reorganisasi sistem Pemerintahan Kedatuan Luwu yang membentuk tiga wilayah besar yang dipimpin oleh Anak Tellue yaitu :

· Wilayah Makole Baebunta dipimpin oleh Opu Makole Baebunta meliputi Kab. Luwu Utara, Kab. Luwu Timur sampai Kab. Morowali Poso Sulawesi Tengah.

· Wilayah Ma’dika Bua dipimpin oleh Opu Ma’dika Bua meliputi Kec. Bua, Bastem, Kab. Tana Toraja, Kab. Kolaka, Kab. Kolaka Utara, dan Walenrang-Lamasi.

· Wilayah Ma’dika Ponrang dipimpin oleh Opu Ma’dika Ponrang meliputi Kec. Ponrang, Bupon, Latimojong, Kamanre, Bajo, Belopa, Suli, Suli Barat, Larompong/Larompong Selatan.

Dalam fase ini Belopa berada pada wilayah Kemaddikaan Ponrang. Dalam suatu momentum penting lainnya, wilayah Belopa tepatnya di kampung Senga di bentuk salah satu “Lili Passiajingeng” atau wilayah kekerabatan dalam Kedatuan Luwu, sehingga mulai saat itu Belopa berada dalam wilayah “Lili Passiajingeng” Opu Arung Senga atau wilayah yang langsung berada di bawah koordinasi Datu Luwu karena berada diluar koordinasi dari salah satu Anak Tellue (sejenis daerah khusus istimewa di pemerintahan sekarang). Perkembangan tersebut diatas tidak di ketahui secara pasti keadaannya, sampai masuknya Islam dan penjajah Hindia Belanda di Wilayah Kerajaan Luwu.



Masa Kerajaan Hindia Belanda.

Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki pusat Kedatuan Luwu di Palopo setelah terlebih dahulu melalui serentetan pertempuran. Berselang beberapa waktu kemudian, di Bajo ditempatkan seorang pejabat Hindia Belanda yang disebut ”Tuan Petoro Kecil” dengan wilayah kekuasaan yang disebut “distrik” dari wilayah kekuasaan Kedatuan Luwu bagian selatan, yang sebelumnya secara de facto menjadi wilayah Opu Sanggaria Bajo, dimana didalamnya terdapat Belopa dan pelabuhan ulo-ulo beserta daerah-daerah lainnya di Wilayah Kedatuan Luwu bagian selatan. Oleh karena kepentingan penjajah Pemerintah Hindia Belanda, maka Belopa tetap diberi posisi penting, baik karena letak geografis, maupun karena didukung oleh pelabuhan ulo-ulo, yang dapat memperlancar perdagangan rakyat antara pulau. Begitu pentingnya Belopa dalam pandangan pemerintah Hindia Belanda, sehingga Tuan Petoro Kecil yang berkedudukan di Bajo, sangat mendukung, Belopa sebagai daerah agraris dan sentra perdagangan hasil bumi di bagian selatan. tetapi, pada sisi lainnya ruang gerak masyarakat itu di batasi kebebasannya. dan inilah yang menjadi salah satu pemicu munculnya gerakan nasionalisme dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk “Srikandi Luwu dari Belopa” yaitu “Opu dg. Risadju”



Masa Pendudukan Jepang

Pada tahun 1942 jepang berhasil menghalau pemerintah Hindia Belanda, namun sistem pemerintahannya hampir sama dengan sistem pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. tetapi rakyat agak lebih lega, karena diberi kebebasan berusaha, bercocok tanam dan nelayan.

Keadaan tersebut diatas memberi suasana baru bagi masyarakat yang mendiami Bajo-Belopa dan sekitarnya, sehingga hasil-hasil bumi masyarakat Belopa dan sekitarnya yang dikenal dengan nama Tana Manai lebih meningkat, kondisi seperti inilah yang memberi motivasi sehingga Belopa dan sekitarnya, diberi julukan “Pabbarasanna Tana Luwu”. (lumbung pangan Tana Luwu)



Masa kemerdekaan dan pergolakan DI/TII

Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada tanggal 29 desember 1949, Kab. Luwu pada umumnya dan Tana Manai pada khususnya, dilanda gangguan keamanan dengan pergolakan DI/TII.

Pada masa tersebut meskipun Belopa berada dalam wilayah Distrik Bajo dari onder afdeling Palopo, tetapi secara de facto kegiatan pemerintahan dan upaya pemulihan keamanan tetap berpusat di Belopa, sampai berakhirnya pergolakan DI/TII sekitar tahun 1962.



Masa Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan berlakunya Undang-undang Darurat No. 3 tahun 1957 tentang penghapusan Sistim Pemerintahan Swapraja dan terpisahnya Tana Toraja dari Kab. Luwu, maka praktis sistem pemerintahan Swapraja disertai berakhirnya pula pemerintahan sistem Kerajaan Luwu. Datu Luwu Andi Djemma langsung menjadi Bupati/Datu Luwu kala itu, dengan berlakunya UU.No.29 tahun 1959 tentang Terbentuknya Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sistem Pemerintahan Swatantra dihapus. pada waktu itu Wilayah Kab. Dati II Luwu di bentuk 16 kecamatan dan salah satu diantaranya adalah Kecamatan Bajo dengan ibukotanya Belopa, sesuai Keputusan Gubernur Kepala Daerah TK.I Sulawesi Selatan Tenggara Nomor : 2067a tahun 1961 tanggal 19 Desember 1961. oleh karena Belopa mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang, maka Belopa ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan pada tahun 1983, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1983. pada Perkembangan berikutnya di bentuk Pembantu Bupati Wilayah III yang berkedudukan di Belopa pada tahun 1993.

Sebagai konsekwensi logis lahirnya UU. no. 22 tahun 1999 sebagai pertanda pelaksanaan otonomi Daerah, mekarlah Kab. Luwu Utara dengan ibu kota Masamba berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1999. Bahkan sesudah itu Kota Palopo sebagai Ibukota Kab. Luwu ditingkatkan statusnya menjadi kota otonom, dengan lahirnya UU. no 11 tahun 2002. pada waktu itu, Kota Palopo berfungsi sebagai ibu kota ganda, disamping sebagi ibu kota induk ( Kab. Luwu ) juga sebagai ibu kota otonom Palopo hasil pemekaran.


Sumber :

http://www.luwukab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=105&Itemid=55